Menurut Veda, Mengapa Alam Semesta & Kehidupan Ini Diciptakan?

Ditanyakan pada tanggal: 07 Nov 2021. · Ditanyakan oleh: Filsafat Hindu.

Akun Filsafat Hindu (non-resmi) untuk Pedia Indonesia dalam misi mencerahkan umat Sanatana Dharma.

Dirilis pada tanggal: 07 Nov 2021.
1
7

Dalam kesusasteraan Veda (Mahā Upaniṣad 4.87), dikatakan: "Alam semesta ini hanyalah olahraga rohani dari Īśa, Tuhan Yang Maha Kuasa."

Dalam studi Vedānta (Brahma Sūtra 2.1.33), ada sebuah śloka yang sangat dikenal, lokavattu līlā kaivalyam: "Ciptaan (alam semesta) hanyalah permainan Brahman (Tuhan)."

Adi Sankarācārya dalam bhāṣya-nya berkomentar:

.—"Ini seperti seorang raja, yang kebutuhannya semua terpenuhi, terlibat dalam permainan, olahraga, atau hiburan tanpa tujuan tertentu. Sama seperti nafas masuk dan keluar secara alami, demikian pula penciptaan tidak memiliki tujuan eksternal selain sifat dari Brahman itu sendiri. Kita tidak dapat menanyakan tujuan dibalik sifat dan karakter seseorang, karena itu adalah definisi dari dirinya sendiri. Bahkan jika alam semesta tampak bagi kita sebagai hasil dari suatu rencana besar, rancangan atau tujuan, namun itu hanyalah sebuah permainan besar Tuhan karena kekuatan-Nya yang tak terbatas. Bahkan jika kita menyimpulkan beberapa tujuan tersembunyi di baliknya, itu tidak benar-benar berlaku karena Brahman selalu terpenuhi dengan sendirinya. Akhirnya, penciptaan bukanlah topik pembahasan yang paling penting."

Kebenaran sederhana filsafat Vedānta adalah bahwa tidak ada yang lain selain Brahman. Dalam Bṛhad-Āraṇyaka Upaniṣad (1.4.10) dinyatakan, ahaṁ brahmāsmi: Diri saya adalah Brahman, diri saya adalah roh.

Di Bali, evolusi Brahman disebut sebagai Tri Puruṣa:

  • Paramaśiva-tattva (Nirguṇa)
  • Sadāśiva-tattva (Saguṇa)
  • Śiwātmā-tattva (makhluk hidup)

Di dalam Lontar Bhūwanakośa (1.1) dikatakan, awalnya, Sang Kesadaran Agung (Brahman) adalah kekosongan atau bahkan melampaui kekosongan (Mahāśūṇyatārūp Paramaśiva-tattva). Sang Ketiadaan itu mengalami dinamika karena pengaruh iccaśakti (energi-Nya). Dinamika pertama ini adalah kehendak-Nya untuk mengada menjadi sesosok pribadi penguasa (Mahādeva) atau pengendali (Maheśvara), yaitu Sadāśiva-tattva.

Namun ketika alam semesta ini direfleksikan, Ia menyembunyikan Diri-Nya dengan selubung ilusi-Nya (Māyāśakti) dan mengalami diri menjadi kepingan puzzle, yaitu sebagai jiwa-jiwa individu atau makhluk hidup. Kepingan-kepingan inilah yang disebut ātmā (roh individu).

Ingin memberikan Komentar

Anda harus login terlebih dahulu untuk dapat memberikan Komentar pada artikel ini.

Komentar

    Sepi banget yak :(

Bacaan selanjutnya


Pedia Indonesia saat ini masih dalam tahap rilis beta. © 2021 - Pedia Indonesia