Siapakah Acintya? Mengapa Berwarna Emas?

Siapakah Acintya? Mengapa Berwarna Emas?

Dilansir dari kanal Instagram @filsafat_hindu, inilah penjelasan terkait siapakah Acintya dan mengapa berwarna emas..

Akun Filsafat Hindu (non-resmi) untuk Pedia Indonesia dalam misi mencerahkan umat Sanatana Dharma.

Dirilis pada tanggal: 05 Nov 2021.
1
3

Weda Śruti (Chāndogya Upaniṣad, 1.6.6-7) menyebut identitas sosok Acintya ini:

.—"Dia bersemayam di dalam matahari. Rambut & janggut-Nya emas, seluruh badan-Nya emas terus hingga sampai ke ujung kuku-Nya. Mata-Nya seindah bunga Padma."

Lantas, siapa Puruṣa keemasan yang disinggung itu? Sekarang giliran Weda Smṛti (Śiwa Purāṇa, 6.19.15-17) menjelaskan:

.—"Sesungguhnya Weda menyebut Śiwa sebagai keemasan. Di dalam Chāndogya Dia dikatakan memiliki ciri: berkumis emas & berambut emas. Di mana-mana dari kuku sampai rambut-Nya adalah emas."

Uraian tersebut tidak bertentangan dengan teologi Śiwa Siddhānta di Bali. Śiwa adalah Śiwa-Raditya, yaitu Śiwa sebagai penguasa matahari. Umat Hindu Bali bersembahyang menghadap ke timur (matahari terbit) yang tertuju pada pemujaan Śiwa Raditya.

Dalam episode Legodbawa di Bali, yaitu kisah Brahmā & Wiṣṇu yang gagal mencari pangkal & ujung lingga api Śiwa, penampakan Śiwa selalu digambarkan sebagai Acintya. Śiwa Gītā (6.35) menyatakan, "Karena Brahmā & Wiṣṇu gagal menjangkau cahaya pribadi-Ku maka Aku disebut Ananta (Tak Berujung).

Jadi Acintya adalah salah satu wujud Swārūpā Bhedā Parabrahman Sadāśiwa. Secara terminologi acintya berarti "tak terpikirkan". Sesungguhnya Dia yang diluar jangkauan pikiran manusia bukan berarti tanpa wujud, Bṛhadāraṇyaka Upaniṣad (2.3.1) menyatakan Tuhan adalah Nirguṇa (tanpa atribut) & Saguṇa (beratribut).

Di dalam Īśa Upaniṣad dikatakan "hiraṇmayena pātrena", yang berarti cahaya berwarnakan emas memancar dari badan Tuhan Īśāna. Kata-kata seperti "tat tvaṁ pūṣann apāvṛṇu" menyiratkan: "Kiranya Engkau berkenan menyingkirkan sinar yang menyilaukan ini agar kami dapat melihat wujud-Mu yang sejati."

Purāṇa mengibaratkan terangnya badan Ādi Puruṣa laksana kilauan 10 juta matahari terbit. Oleh karena cahaya menyilaukan itu, secara puitis Śruti memuji Acintya sebagai pribadi keemasan. Dalam Śiwa Sahasranāma (1000 Nama Śiwa) menamai cahaya Pribadi Tertinggi itu dengan sebutan Brahmajyoti atau Brahmateja. Sinar ini lah yang menyilaukan penglihatan para penentang Tuhan.

Ingin memberikan Komentar

Anda harus login terlebih dahulu untuk dapat memberikan Komentar pada artikel ini.

Komentar

    Sepi banget yak :(

Bacaan selanjutnya


Pedia Indonesia saat ini masih dalam tahap rilis beta. © 2021 - Pedia Indonesia