Mengapa Padmāsana berbentuk kursi kosong?

Mengapa Padmāsana berbentuk kursi kosong?

Dilansir dari kanal Instagram @filsafat_hindu, berikut ini penjelasan mengapa Padmasana berbentuk kursi kosong..

Akun Filsafat Hindu (non-resmi) untuk Pedia Indonesia dalam misi mencerahkan umat Sanatana Dharma.

Dirilis pada tanggal: 05 Nov 2021.
1
6

Padmāsana adalah simbul gunung Mandara Giri dimana pada bagian Sari (puncak) adalah singgasana Tuhan.

Dikisahkan di dalam Śiwa Gītā (Padma Purāṇa: Uttara-khaṇḍa). Pada mulanya Brahmā & dewa-dewa lainnya ingin mengetahui wujud asli Tuhan, berkumpul di bawah gunung Mandara yang merupakan gunung favorit-Nya.

Setelah berkumpul di sana, mereka berdiri di bawah gunung Mandara & menyanyikan nyanyian Sūktam untuk-Nya. Mengetahui maksud tujuan mereka, Tuhan muncul & memancarkan ilusi Māyā-Nya. Para dewa, yang dicengkram oleh ilusi Tuhan berkata, 'Siapakah Anda?'. Dalam konteks itu Tuhan menyapa mereka:

.—"Aku adalah Ādi-Anādi-Puruṣa (makhluk primordial terpurba)."

Tuhan kemudian berbicara mengenai keberadaan-Nya sebagai Sangkan Paraning Dumadi, yakni sumber dari segala kehidupan.

—"Ketahuilah bahwa di seluruh alam semesta ini, tidak ada yang lain selain Aku. Aku abadi & Aku juga yang tak abadi, Aku tak bercela. Aku adalah semua arah. Aku Gāyatrī. Semua pria, wanita, & tanpa gender juga adalah Aku. Akulah obyek tertinggi pada Weda, Aku kebenaran. Aku adalah persembahan kurban, Aku pendonor, Aku donatur. Aku memiliki wajah di mana-mana. Aku akhir, tengah, Aku pintu, Aku di luar, Aku di dalam, Aku depan & Aku juga belakang. Aku terang & Aku juga kegelapan. Aku matahari, Aku bulan, Aku bintang & juga planet. Semua makhluk adalah Aku, Aku Prāṇa (nafas), Aku waktu, kematian, & keabadian. Aku adalah masa lalu, sekarang & masa depan. Aku adalah segalanya."

Kisah diatas adalah alternatif lain tentang status gunung Mandara. Kisah umum dari bangunan Padmāsana adalah pemutaran Mandara Giri di lautan Kṣīrārṇava mencari Tīrtha Amṛtā (episode Kūrma Avātara).

Di Bali, Padmāsana lebih seperti tahta kursi singgasana kosong, dimana kekosongan tersebut mewakili sifat Tuhan yang Parāśūnya (Maha Gaib / tidak terlihat) & sering diwakili oleh relief Acintya (makhluk emas). Brāhmaṇa Purāṇa (2.26.49-50):

.—"Segala puji-pujian untuk-Mu, wahai penguasa keemasan, yang berbadan emas, yang menghasilkan emas, yang bersuara emas. Salam pada-Mu, O Saṅkara (Śadāśiwa) yang berleher biru."

Ingin memberikan Komentar

Anda harus login terlebih dahulu untuk dapat memberikan Komentar pada artikel ini.

Komentar

    Sepi banget yak :(


Pedia Indonesia saat ini masih dalam tahap rilis beta. © 2021 - Pedia Indonesia